Oleh: Naguib Mahfouz
"Bapak!"
"Ya?"
"Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama."
"Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu."
"Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang."
"Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan."
"Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain."
Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:
"Itu hanya pada pelajaran agama saja."
"Kenapa, Pak?"
"Karena kau punya agama sendiri dan ia punya agama lain."
"Bagaimana sih, Pak?"
"Kau Islam dan ia Kristen."
"Kenapa?"
"Kau masih kecil, nanti akan mengerti."
"Saya sudah besar sekarang."
"Masih kecil, Sayangku."
"Kenapa saya seorang Islam?"
Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:
"Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam."
"Dan Nadia?"
"Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen."
"Apa karena bapaknya berkacamata?"
"Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen."
Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan percakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:
"Siapa yang lebih baik?"
Ia berpikir sejenak, lalu berkata:
"Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik."
"Tentu salah satu ada yang lebih baik."
"Ini baik dan itu juga baik."
"Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?"
"Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang tetap harus seperti bapak dan ibunya."
"Tapi kenapa?"
Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:
"Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?"
"Tidak."
"Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam."
"Jadi, Nadia itu mode lama?"
Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia merasa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:
"Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya."
"Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?"
Segera ia memotong:
"Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga."
"Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?"
"Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain."
"Apa bedanya, Pak?"
"Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah."
"Siapa sih Allah, Pak?"
Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:
"Apa kata Bu Guru di sekolah?"
"Ia membaca surat-surat dari Al-Qur'an dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu."
Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:
"Ia yang menciptakan dunia seluruhnya."
"Seluruhnya?"
"Ya, seluruhnya."
"Apa artinya mencipta?"
"Yang membuat segala sesuatu."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan kekuasaan yang agung sekali."
"Dimana Ia tinggal?"
"Di dunia seluruhnya."
"Dan sebelum ada dunia?"
"Di atas."
"Di langit?"
"Ya."
"Saya ingin melihat-Nya."
"Tidak bisa."
"Meskipun melalui televisi?"
"Ya, tidak bisa juga."
"Tak seorang pun bisa melihat-Nya?"
"Tak seorang pun."
"Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?"
"Begitulah."
"Siapa yang kasih tahu Ia di atas?"
"Para nabi."
"Para nabi?"
"Ya, seperti nabi kita Muhammad."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan kesanggupan yang khas ada padanya."
"Kedua matanya tajam sekali?"
"Ya."
"Kenapa begitu?"
"Allah menciptakannya begitu."
"Kenapa?"
Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:
"Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki."
"Dan bagaimana nabi melihat-Nya?"
"Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu."
"Seperti Bapak?"
Ia menjawab sambil menahan tawanya:
"Ia tak ada bandingannya."
"Kenapa Ia tinggal di atas?"
"Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi ia bisa melihat segala sesuatu."
Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:
"Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi."
"Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana."
"Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya."
"Tapi Ia hidup dan tidak mati."
"Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya."
"Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi ia hidup dan tidak mati."
"Dan kakekku masih hidup juga?"
"Kakekmu sudah meninggal."
"Apa orang-orang juga telah membunuhnya?"
"Tidak, ia meninggal sendiri."
"Bagaimana?"
"Ia sakit, dan kemudian meninggal."
"Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?"
Keningnya mengerenyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.
"Tidak. Insya Allah ia akan sembuh."
"Dan kenapa Kakek meninggal?"
"Sakit dalam ketuaannya."
"Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?"
Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:
"Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya."
"Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?"
"Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki."
"Apa mati itu menyenangkan?"
"Tidak, Sayang."
"Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?"
"Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan."
"Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan."
"Hmm, Bapak keliru tadi."
"Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?"
"Karena Tuhan belum menghendaki begitu."
"Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?"
"Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi."
"Kenapa?"
"Agar kita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi."
"Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?"
"Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal."
"Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?"
"Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi."
"Di mana?"
"Di atas."
"Di sisi Tuhan?"
"Ya."
"Dan kita bisa melihat-Nya?"
"Ya."
"Tentunya itu bagus kan?"
"Tentu."
"Kalau begitu, kita harus pergi."
"Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik."
"Dan Kakek sudah melakukannya?"
"Ya."
"Apa yang ia lakukan?"
"Ia telah membangun rumah dan menanam kebun."
"Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?"
Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.
"Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi."
"Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik."
"Ia anak nakal."
"Tapi ia tidak akan mati."
"Kecuali kalau Tuhan menghendakinya."
"Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?"
"Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka."
Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata- katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya.
Namun si kecil tiba-tiba berseru:
"Saya ingin selalu bersama Nadia!"
Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:
"Meski pada pelajaran agama sekalipun!"
Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:
"Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!"
Istrinya menyahut:
"Nanti ia akan besar, dan akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya."
Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan belaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya.
*Diterjemahkan oleh M. Fudoli Zaini, dalam "Antologi Cerpen Nobel"
(Penerbit Bentang, Mei 2004).
NAGUIB MAHFOUZ lahir di Kairo, Mesir, pada 1911. Ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad. Sebagai pengarang, Mahfouz mula-mula menulis dengan gaya romantis, lalu realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis.
NAGUIB MAHFOUZ terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerpen. Dari tangannya sudah lahir 32 novel, 14 kumcer, dan 30 naskah film. Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan 1988 pada Mahfouz, sebagai pengakuan untuk: "... ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan."
Monday, August 1, 2011
Surga Anak-Anak
Renungan (nice story)
Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia,karena dia bisa memilih untuk menjadi "setan atau malaikat" (John Scheffer)
----------------------
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi.
Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
* * *
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu, Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
--------------------------------------
"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.
Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita. Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
--------------------------------------
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya. Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu.
Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya. Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali.
Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya
Menggapai Cinta Rabbani
Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru.
Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satu pun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu. Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.
Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah sama 'buntelan karung hitam' itu?" Duh..., hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut 'buntelan karung hitam'.
"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu!" sambung ibu lagi.
"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu?" Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.
"Oh... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. Baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini!"
DEG!!!!
****
"Yanto... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran Ismail membuyarkan lamunanku. Segera kuucapkan istighfar dalam hati.
"Alhamdulillaah penghulu sudah tiba. Bersiaplah akhi," sekali lagi Ismail memberi semangat padaku.
"Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas kawin seperangkat alat shalat tunai!"
Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan akad nikah.
"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."
****
Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.
"Assalamu'alaikum... Permintaan hafalan Al-Qur'annya mau di cek kapan De'?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Al-Qur'an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.
"Nanti saja dalam qiyamul lail," jawab istriku, masih dalam tunduknya. Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia menyerah.
Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu, bahwa wajah istriku 'tidak menarik'. Sekelebat pikiran itu muncul dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta'aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam Malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka, "... Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa : 19).
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.
"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."
Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.
"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh... saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.
"Tidak, De'. Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil menggenggam erat tangannya.
****
Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait do'a kubentangkan padaNya.
"Rabbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Rabbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan padaMu. Karena itu, pertemukanlah aku denganMu dalam JannahMu!"
Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah, sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shaum sunnah RasulNya.
"... dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah..." (QS. al-Baqarah : 165).
Mencari Ilmu Kesaktian
Alkisah (alkisah artinya kisah yang tidak mesti dipercaya kebenarannya, karena tingkat kesahihan riwayat yang masih diragukan) tersebutlah seorang pemuda dari kerajaan antah-berantah yang berada di pulau Lombok bagian selatan dekat-dekat Gerung, sebut saja Tuak Man, begitu terobsesi ingin memiliki ilmu kesaktian, ilmu kanuragan yang akan digunakannya membasmi kejahatan curas, curanmor, begal rampok dan kejahatan korupsi yang sedang marak di kampungnya. Dengan semangat patriotisme dan obsesi yang tinggi Tuak Man berangkat ke kampung Jeranjang, yang juga berada di Lombok bagian selatan untuk berguru kepada seorang pendekar tua yang terkenal kesaktiannya. Tujuannya hanya satu, menjadi pahlawan yang akan membasmi kejahatan, seperti tokoh-tokoh idolanya, seperti Superman, Batman, Gundala, Godam dan Khairiyansyah.
Singkat cerita, setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, melewati jalan setapak menerobos hutan, mendaki bukit, menuruni lembah nan curam dan bila letih tak tertahan ia sesekali naik ojek, sampailah tokoh kita ini di padepokan sang pendekar tua. Dengan wajah setengah percaya setengah tidak, di depan gerbang padepokan, Tuak Man disambut dengan ritual dan alu-aluan selamat datang.
Setelah bersalam tabik secukupnya dan menurunkan barang bawaan, beras pati, ayam putih mulus dan satu siung bawang putih, Tuak Man, sang tokoh kita ini menyampaikan maksud kedatangannya kepada sang pendekar digjaya. Tak lupa Tuak Man menyampaikan keprihatinannya tentang kejahatan yang semakin marak, keprihatinan tentang kondisi kampungnya yang semakin edan, bandit dan begundal lalu-lalang petantang-petenteng terang-terangan.
Demi mendengar penjelasan maksud kedatangan Tuak Man, sang tetua pendekar sakti manggut-manggut, menyibak-nyibak jenggotnya yang awut-awutan dan ubanan. Dengan kalimat terpatah-patah sang pendekar digjaya menyatakan bersedia mengajarkan satu ilmu yang sangat ampuh. Keampuhan ilmu tersebut adalah mampu melenyapkan segala bentuk gangguan, jin, sihir, dedemit, atau gunderuwo yang menghadang termasuk melemahkan musuh.
"Tentu saja," kata sang Pendekar Tua dengan berwibawa, "ajian ini bisa mengalahkan sirep para maling, melumpuhkan begal-begal, dan mengalahkan semuanya!"
"Cuman, Cu, Eyang tidak yakin apakah nantinya kamu sebagai pemilik ajian ini mampu bertahan dengan ajian sogokan waktu pemilihan lurah. Kamu tahu kan sekarang, sogokan dalam pemilihan lurah sudah pakai janda kembang. Ha ha ha..."
Tinggallah tokoh kita kebingungan, karena tidak mengerti letak lucunya penjelasan sang eyang.
"Kamu akan Eyang ajarkan ajian yang sangat ampuh. Untuk melenyapkan gangguan, melumpuhkan sirep begal-begal, caranya cukup mudah. Baca jejampian ini sambil menahan napas dan menghentakkan kaki tiga kali ke tanah. Bila musuh yang dihadapi tidak terlalu digjaya, maka cukup sekali saja merapal mantera, ia akan hilang. Tetapi bila ternyata musuh yang dihadapi tidak mau pergi, ajian ini harus kamu ulangi sampai tiga kali."
"Bila setelah tiga kali dibacakan mantera tetapi masih juga tidak bisa menghilang, lebih baik kamu tinggalkan tempat itu dan kembali ke sini meminta bantuan karena pastilah ia pendekar yang berilmu sangat tinggi atau makhluk yang sangat ganas." Demikian pesan sang guru.
Syahdan, masa dua tiga bulan latihan pun berlalu. Dengan latihan yang keras dan dendam yang memanas, akhirnya sampailah si tokoh kita pada malam pentahbisan, malam ujian untuk lulus-lulusan. Dua tiga lawan ia rontokkan, empat lima cobaan telah dikalahkan. Dan di malam pengumuman, Tuak Man dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan.
Dengan hati berbunga-bunga setelah mampu menghapal ajian ini dan mencoba membuktikan keampuhannya, Tuak Man malam-malam pulang sendiri lewat kuburan Batu Muluk (sebuah lokasi kawasan pemakaman di pinggir jalan di dekat Peseng, Desa Kebon Ayu, Gerung yang terkenal keangkerannya). Dari kejauhan Tuak Man melihat satu titik kuning di pinggir jalan, diam tidak bergerak menghalangi jalannya. Keyakinannya menyatakan bahwa makhluk ini adalah penghadang, dan ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk menjajal manteranya.
Tanpa rasa takut ia terus saja berjalan, mendekati sang penghadang. Setelah berada dalam posisi berhadapan, dengan penuh percaya diri ia merapal manteranya, menahan napas dan menghentakkan kakinya tiga kali ke bumi. Makhluk itu ternyata tidak bergeming. Sesuai pesan gurunya, ia mengulang sekali lagi. Dengan bacaan kedua pun ternyata makhluk itu tetap tidak mau pergi. Setelah bacaan keduanya, hati si tokoh kita ini mulai sedikit ciut. Dengan perasaan masih percaya diri dibarengi dengan perasaan agak takut-takut, ia membaca ajian pemungkasnya. Aneh, makhluk itu pun tidak mau pergi.
Sesuai pesan gurunya, ia beringsut pergi kembali ke tempat gurunya untuk meminta bantuan karena di dunia nyata, ternyata senyata-nyatanya ia telah gagal sejak penghadangan pertama.
Dengan bersama sang guru, ia kembali ke kubur Batu Muluk. Dan benar, makhluk itu masih di sana. Dengan posisi kuda-kuda, sang pendekar tua mulai merapal mantera. "Wes, wes, wes, dedemit penghalang, enyahlah dari hadapan. Busss!"
Ternyata makhluk penghadang berwujud kuning besar itu tidak bergeming. Satu kali, dua kali tiga kali diulang, makhluk penghadang tetap tidak juga mau pergi.
Diam-diam mereka berdua menyimpan tanya dan ketakutan. Dalam diam yang bisu mereka menanti keajaiban dengan harap-harap cemas; keajaiban yang dapat membebaskan mereka dari musuh yang hebat:
Dan benar! Tiba-tiba dari kejauhan berkelebat sebuah sinar terang. Begitu cepat begitu terang, kilat tanpa hujan. Terang yang sebenar-benarnya terang. Dan tergambar jelas di atas makhluk besar itu:
COMPACTOR CATERPILLAR
HATI-HATI SEDANG PERBAIKAN JALAN!
Istri Sholehah
Seminggu sekali sepulang kerja biasanya aku ikut pengajian rutin sampai menjelang maghrib. waktu itu kita masih membahas bab nikah, dan seperti biasanya sebelum pengajian itu dimulai, guru kita membaca doa, setelah itu pengajian dimulai dengan membaca hadist riwayat Tarmidji, yang kemudian beliau membacanya.
"Ada 3 golongan yang pantas ditolong oleh Allah yaitu :
1. Pejuang pada jalan Allah terutama jihad melawan kafir
2. Budak yang membebaskan dirinya sendiri
3. Pernikahan yang bertujuan untuk menjaga kehormatan dirinya
"Dunia ini laksana perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang sholeha yaitu istri yang selalu menjaga dirinya dan harta suaminya. Bagi seorang mukmin sesudah bertaqwa pada Allah, tidak ada lagi yang terbaik selain dari pada istri yang sholeha, yaitu apabila disuruh suaminya dia taat, dan bila suami melihatnya akan menyenangkan hatinya."
Setelah membaca hadist itu, seperti biasanya guru kita itu langsung bicara dan membahas apa yang sudah dibacanya.
"Lihat..nikmatnya punya istri yang sholeha.." kata guruku sambil senyum-senyum dan kita semua masih duduk mendengarkan.
"Harusnya yang berada di pengajian ini adalah para laki-laki, jadi sia-sia enggak ya..kita membahas ini..?" kata beliau.
"Enggaklah pak..itu masih ada pak zein yang ikut pengajian ini.." kataku iseng nyeletuk.
"Hehe..iya..ya..hanya pak zein sendiri ya..?" sadar guruku sambil tersenyum ke arah satu-satunya pria yang ada di majelis itu. Akhirnya beliau bicara lagi.
"Istrimu itu adalah ladang bagimu, maka datangilah dari arah manapun engkau mau." lanjut beliau sambil tersenyum-senyum ke arah pak zein sambil menganggukkan kepalanya.
"Pak, kalau kita jima sama istri, itu sedekah ya pak..?" tanya pak zein pada beliau.
"Oh iya..bila kita berhubungan pada istri maka itu adalah ibadah dan menjadi sedekah.." terang guruku.
"Hehehe..bapak jangan bilang gitu dong pak! Kesenengan pak zein tuh. Nanti sedekahnya gituan doang dong..?" Celetukku seperti biasanya dan membuat majelis sedikit rame karena tawa.
"Coba bayangkan..bila kita mempunyai istri yang sholeha, bersedia bangun malam untuk sholat tahajud sama-sama, apalagi bila istri yang membangunkan suami untuk bangun malam. Nikmat ya, punya istri seperti itu." senyum guruku dan masih berlanjut.
"Dan istri yang sholeha pada saat ngebangunin suaminya dan ternyata suaminya marah, pada saat dibangunkan, sang istri itu biasanya sabar dan patuh pada suaminya walau dimarahin."
"Pak..ngebangunin suami, disiram air aja ya pak, kalau enggak mau bangun..?" celetuk seorang teman wanitaku yang disambut tawa yang lainnya.
"Hehehe..boleh dengan memercikan air ke wajah suami/istri atau mengusap mukanya dengan air.." jawab guruku sambil tersenyum.
"Kalau marah gimana pak..?" celetuh yang lainnya lagi.
"Iya enggak apa-apakan? sholat sendiri aja, dan kita masih dapat pahala ngebangunin sholat." kata guruku sambil tersenyum.
"Pak..kalau habis ambil wudhu, bangunin suaminya di cium aja, batal enggak pak?" celetukku disertai tawa.
"Hehehe..iya..di cium aja, gak batal wudhunya. Toh Rasulullah pernah mencium aisyah setelah berwudhu, dan itu lebih baik, karena enggak mungkin suami marah pada saat dibangunkan dengan ciuman, kecuali suaminya 'sakit'" jawab guruku sambil tertawa.
"Yeee...kalau dicium mah bisa-bisa enggak jadi sholat pak. Malah sedekah gituan lagi dong." celetuk salah seorang temanku lagi yang disambut tertawa oleh semua murid dan sang guru hanya tersenyum-senym sambil mengangguk-anggukan kepalanya menyaksikan para murid yang selalu iseng bercanda dalam belajar.
Berapa Lamakah Kita Di Kubur?
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.
Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan.
"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu"
Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya.
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah."
Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.
"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun. "
Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-01-1910"
"Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya.
Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
"Memangnya kenapa ndhuk?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka." Kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya, kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur, ya nggak yah?"
Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas.
"Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.
Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 36 tahun... hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi... 136 tahun disiksa... atau bahagia di kubur... Lalu ia menunduk... meneteskan air mata... Kalau ia meninggal... lalu banyak dosanya... lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un ... air matanya semakin banyak menetes... Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan... kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?
Ya Allah... ia semakin menunduk... tangannya terangkat keatas... bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya.
Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak... dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.
Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu... dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya, arti Sebuah kehidupan, dan apa yang akan datang di depannya
Blog Archive
-
▼
2011
(947)
-
▼
November
(125)
- Race Injection (2011) PC Game [Mediafire]
- Cars 2 : The Videos Game (2011) PC Game [Mediafire]
- NFS Shift 2 : Unleashed (2011) PC Game [Mediafire]
- Angry Birds Cracked Complete Seasons (2011) PC Gam...
- Battlefield 3 (2011) PC Game [Mediafire]
- Call of Duty : Modern Warfare 3 (2011) PC Game [Me...
- Need For Speed : The Run (2011) PC Game [Mediafire]
- Race Injection (2011) PC Game [Mediafire]
- DragonBall Z Mugen 2009 (PC Game)
- WRC 2 : FIA World Rally Championship (2011) PC Gam...
- Ultimate Spider Man [Mediafire] Full PC Game
- BREAKING NEWS: Doom3 source code released!
- Bulletstorm (2011) PC Game [Mediafire]
- Call of Duty : Modern Warfare 3 (2011) PC Game [Me...
- Dead Rising 2 : Off The Record (2011) PC Game [Med...
- AVWW Beta 0.542, "Centurion AI," Released!
- FIFA 12 (2011) PC Game [Mediafire]
- Fan made trailer contests and other FPS news
- Mini Ninjas [Mediafire] Full PC Game
- Bully: Scholarship Edition PROCYON PC Game [Mediaf...
- Brink (2011) PC Game [Mediafire]
- Sonic Generations (2011) PC Game [Mediafire]
- Lord of the Rings War in the North (2011) PC Game ...
- Need For Speed : The Run (2011) PC Game [Mediafire]
- Jurassic Park : The Game (2011) PC Game [Mediafire]
- Antamedia Bandwidth Manager Full
- AVWW: MineCon Giveaways, New Starting Guide, And B...
- Kode warna
- Assassin's Creed Brotherhood (2011) PC Game [Media...
- ARMA II: Reinforcements (2011) PC Game [Mediafire]
- Alice: Madness Returns (2011) PC Game [Mediafire]
- jMonkeyEngine Official Beta Contest Announced
- Unknown Horizons 2011.3 Changes and Videolog
- Show Me The Games Indie Sale
- 18 Wheels of Steel Extreme Trucker 2 PC Game [Medi...
- Membuat Text Area Yang Cantik
- Cara Memasang Burung Twitter Warna Warni Di Blog
- Bomber Mario (File size: 7 Mb)
- Kezaliman |Hadist|
- Ujian dan Cobaan |Hadist|
- Dukun dan Peramal |Hadist|
- Kitab Zikir, Doa, Tobat Dan Istigfar |Hadist|
- Zuhud Dan Kelembutan Hati |Hadist|
- Keutamaan Sahabat |Hadist|
- Keutamaan Beberapa Perkara |Hadist|
- Taubat |Hadist|
- Kebajikan, Silaturahmi Dan Adab Sopan Santun |Hadist|
- Adab |Hadist|
- Pakaian Dan Perhiasan |Hadist|
- Hewan Buruan, Hewan Sembelihan Dan Hewan Yang Bole...
- Jual-Beli |Hadist|
- Sumpah |Hadist|
- Barang Temuan |Hadist|
- Minuman |Hadist|
- New websites, releases and competitions etc
- Petualangan Devine Kids (33 Mb)
- Warzone 2100 (48 Mb)
- Kissing DOS (bikin situs menjadi down/berat untuk ...
- BlueScreenView | Aplikasi Cek Penyebab Blue Screen
- Perbaiki Crash Error Blus Screen Dengan Anti Crash...
- Settlers of Catan Rules in Open Source Games (aka ...
- Kata-kata Romantis
- KATA-KATA MUTIARA BIJAK
- Kata Mutiara Islami tentang Cinta
- Al-Qur'an (Qura'an MP3)
- Currency Converter (Konvert Mata Uang)
- AVWW Beta 0.541, "Plasma Bolt," Released!
- ET:Xreal 0.3.0 released
- 5 Tempat dengan Nama Paling Gokil di Indonesia
- Pilot Dan Ustadz
- Rahasia Dibalik Nama Muhammad
- Inilah Hotel yang Seluruhnya Terbuat dari Garam di...
- Ini Dia Bangunan Unik, Terbalik di Orlando
- Splice (2010) Hindi Dubbed Blue Ray Rip | Full Movie
- Stadion Unik Berbentuk Buaya Hijau Raksasa
- Model Dasi Unik Aneh dan Lucu
- 5 Fakta Unik Seputar Keringat
- Sejarah Unik Tanda Baca
- Kreasi Unik Gelas yang Bisa Dimakan
- Fakta Unik Tentang T-Rex
- Cerita Lucu Jamaah Haji
- Fakta Konyol Tentang Pocong (Ane jamin ga takut)
- 8 Perbedaan Lucu Antara di Penjara dengan di Kantor
- Demi Kesenangan, Pria Ini Buat Sepeda Unik
- Ekslusif Fashionista Tikus yang Unik dan Lucu
- Kumpulan Kalimat Lucu Untuk inspirasi STATUS FACEBOOK
- Koleksi tebak-tebakan yang unik
- Cowboys And Aliens (2011) English | TS Rip
- Scream 4 (2011) Hindi Dubbed R5 Rip | Full Movie
- Trigger Rally 0.6.0
- Steam Daily Deal: AI War, Alien Bundle, And All DL...
- AVWW: New Intro Mission, MineCon Exhibiting, And IGF
- AVWW Beta 0.540, "Whips, Bursts, And Insects," Rel...
- Memberikan border pada Widget Follower (plus efek...
- Membuat Efek Marquee pada label (Label berjalan da...
- Efek Image Hover (Efek neon & membesar pada gambar)
- Memberikan Efek bintang pada link
- AVWW Beta 0.539, "In-Game Reference Window," Relea...
- Phlipple - Unique 3D Puzzle
- DAFTAR ISI
-
▼
November
(125)